Being Indonesia dan Crown of Asia
January 20th, 2007 by kiriabis“Hi, my name is Hikmat from Indonesia.”
Sudah tidak terhitung berapa kali kalimat itu meluncur dari mulut gue sejak mendarat di Changi hari minggu 7 Januari lalu. Football wizards dari Negara-negara Asia berkumpul di Negeri Singa ini selama 10 hari, and I happened to be one of them.
Lawatan kali ini memang berbeda dari lawatan ke luar negeri gue lainnya, biasanya untuk liputan. Sebab, kali ini gue mewakili Indonesia. Mengusung bendera merah putih dan membawa nama baik tanah air.
Selama 10 hari ini ESPN menyelenggarakan kontes football knowledge, dimana jagoan-jagoan Asia berlaga mengadu pengetahuan mereka tentang sepak bola.
Selama 10 hari ini kami akan bertarung memperebutkan Crown of Asia, bertarung menjadi orang dengan otak paling ‘gila’ mengenai seluk beluk sepak bola dunia.
Mewakili Indonesia. Itu cita-cita gue yang udah lama gue kubur. Masuk ke lapangan di ajang SEA Games, Asian Games, atau bahkan Olimpiade dan Piala Dunia. Mengenakan seragam tim Indonesia, mendengarkan lagu Indonesia Raya berkumandang dan ratusan ribu penonton bersorak sorai begitu kami masuk lapangan.
Tetapi sayangnya gue nggak punya bakat besar sebagai pemain sepak bola. Atau olahraga lain kecuali lewat Playstation. Jadi, selama ini gue selalu berada di pinggir lain lapangan, berangan-angan betapa indahnya berada di tengah, berjuang keras demi nama bangsa.
Well, impian itu kini terwujud meski dalam bentuknya yang lain. Gue berlaga sebagai wakil Indonesia di kompetisi tingkat Asia. Bukan otot atau skil mengolah bola yang membawa gue kesini, melainkan kebiasaan gila gue mengenai sepak bola (jadi Hes, terbukti khan kegilaan bola gue yang elo sebelin banget ada gunanya juga).
Ternyata, ‘menjadi Indonesia’ itu beda banget. Biasanya setiap liputan ke luar negeri gue cuek banget tentang image Indonesia. Tetapi sekarang, gue sangat peduli. Setiap ngobrol sama orang dari Negara lain, gue selalu berfikir bagaimana memberi kesan baik tentang Indonesia.
And it’s a damn hard job. Sure, Indonesia punya nama besar. Hampir semua orang mulai dari Negara besar seperti China, India, sampai Bangladesh tahu Indonesia.
Tetapi kok nggak ada kesan positif ya di mereka. Topik selalu berkisar tentang bencana yang terjadi bertubi-tubi, korupsi, sampai kemacetan.
Tentang bola, gosh, kalau ada beberapa orang yang tahu tentang sepak bola Indonesia, itu adalah mengenai kebrutalan. “Indonesian fans are very violence. Are the police and the government not doing anything about this?” cetus beberapa orang yang sempat ngeliat wasit Djajat Sudrajat dipukul kayu di Pekanbaru lewat berita di ESPN.
Gue udah berusaha keras cuap-cuap betapa di Indonesia sekarang masalah kebrutalan penonton sepak bola sudah berusaha diminimalisasi dengan pembentukan organisasi supporter yang lebih rapi, atau sistem keamanan stadion yang mulai ketat.
Tapi sepertinya itu tidak mempengaruhi mereka, karena gambar-gambar di ESPN atau CNN mengenai betapa brutalnya sepak bola di Indonesia tampaknya jauh lebih kuat dari kampanye gue.
Ya sudah lah, yang bisa gue lakuin sekarang adalah menunjukkan kepada Asia bahwa orang-orang Indonesia juga punya pengetahuan yang gak kalah luas tentang sepak bola. Kalau bisa, crown of Asia akan kami bawa pulang ke Jakarta.
Perasaan being Indonesia ini ternyata juga terjadi pada anggota skuad lainnya. Selain RJ, gue baru ketemu empat wakil lainnya di bandara. Tetapi rasa being Indonesia membuat kami cepat padu bahkan layaknya teman-teman akrab yang sudah kenal dalam waktu lama.
Padahal, kami datang dari latar belakang yang berbeda dan mendukung tim kesayangan yang berbeda-beda pula.
Joe, profesional hotel dan Edwin, marketing tabloid sport terbesar di Indonesia, adalah die hard Arsenal fans. Riski, insinyur di perusahaan teknik dan Chafid, ahli TI lulusan Inggris adalah anggota fans Manchester United Indonesia.Gue dan RJ? We’ll never walk alone pokoknya.
Tetapi begitu bertemu, tahap sosialisasi tampaknya tidak diperlukan. Kami langsung klik dengan begitu saja. Mendukung satu sama lain dan selalu bersama-sama dalam konteks kompetisi hingga bersenang-senang. Kami acak-acak seluruh penjuru Negara ini bersama-sama. Gue sih seneng banget dengan atmosfir seperti ini.
Dan, ternyata gue nggak malu-maluin Indonesia kok. ESPN melarang kami untuk membocorkan hasil kuis ini karena baru akan tayang mulai 27 Februari mendatang. Jadi gue cuma bisa kasih tahu, sampai sekarang kami masih sukses menendang pantat peserta dari negara lain dan lolos ke 16 besar. Sisanya? Lihat sendiri di ESPN.