Being Indonesia dan Crown of Asia

January 20th, 2007 by kiriabis

“Hi, my name is Hikmat from Indonesia.”

Sudah tidak terhitung berapa kali kalimat itu meluncur dari mulut gue sejak mendarat di Changi hari minggu 7 Januari lalu. Football wizards dari Negara-negara Asia berkumpul di Negeri Singa ini selama 10 hari, and I happened to be one of them.

Lawatan kali ini memang berbeda dari lawatan ke luar negeri gue lainnya, biasanya untuk liputan. Sebab, kali ini gue mewakili Indonesia. Mengusung bendera merah putih dan membawa nama baik tanah air.

Selama 10 hari ini ESPN menyelenggarakan kontes football knowledge, dimana jagoan-jagoan Asia berlaga mengadu pengetahuan mereka tentang sepak bola.

Selama 10 hari ini kami akan bertarung memperebutkan Crown of Asia, bertarung menjadi orang dengan otak paling ‘gila’ mengenai seluk beluk sepak bola dunia.

Mewakili Indonesia. Itu cita-cita gue yang udah lama gue kubur. Masuk ke lapangan di ajang SEA Games, Asian Games, atau bahkan Olimpiade dan Piala Dunia. Mengenakan seragam tim Indonesia, mendengarkan lagu Indonesia Raya berkumandang dan ratusan ribu penonton bersorak sorai begitu kami masuk lapangan.

Tetapi sayangnya gue nggak punya bakat besar sebagai pemain sepak bola. Atau olahraga lain kecuali lewat Playstation. Jadi, selama ini gue selalu berada di pinggir lain lapangan, berangan-angan betapa indahnya berada di tengah, berjuang keras demi nama bangsa.

Well, impian itu kini terwujud meski dalam bentuknya yang lain. Gue berlaga sebagai wakil Indonesia di kompetisi tingkat Asia. Bukan otot atau skil mengolah bola yang membawa gue kesini, melainkan kebiasaan gila gue mengenai sepak bola (jadi Hes, terbukti khan kegilaan bola gue yang elo sebelin banget ada gunanya juga).

Ternyata, ‘menjadi Indonesia’ itu beda banget. Biasanya setiap liputan ke luar negeri gue cuek banget tentang image Indonesia. Tetapi sekarang, gue sangat peduli. Setiap ngobrol sama orang dari Negara lain, gue selalu berfikir bagaimana memberi kesan baik tentang Indonesia.

And it’s a damn hard job. Sure, Indonesia punya nama besar. Hampir semua orang mulai dari Negara besar seperti China, India, sampai Bangladesh tahu Indonesia.

Tetapi kok nggak ada kesan positif ya di mereka. Topik selalu berkisar tentang bencana yang terjadi bertubi-tubi, korupsi, sampai kemacetan.

Tentang bola, gosh, kalau ada beberapa orang yang tahu tentang sepak bola Indonesia, itu adalah mengenai kebrutalan. “Indonesian fans are very violence. Are the police and the government not doing anything about this?” cetus beberapa orang yang sempat ngeliat wasit Djajat Sudrajat dipukul kayu di Pekanbaru lewat berita di ESPN.

Gue udah berusaha keras cuap-cuap betapa di Indonesia sekarang masalah kebrutalan penonton sepak bola sudah berusaha diminimalisasi dengan pembentukan organisasi supporter yang lebih rapi, atau sistem keamanan stadion yang mulai ketat.

Tapi sepertinya itu tidak mempengaruhi mereka, karena gambar-gambar di ESPN atau CNN mengenai betapa brutalnya sepak bola di Indonesia tampaknya jauh lebih kuat dari kampanye gue.

Ya sudah lah, yang bisa gue lakuin sekarang adalah menunjukkan kepada Asia bahwa orang-orang Indonesia juga punya pengetahuan yang gak kalah luas tentang sepak bola. Kalau bisa, crown of Asia akan kami bawa pulang ke Jakarta.

Perasaan being Indonesia ini ternyata juga terjadi pada anggota skuad lainnya. Selain RJ, gue baru ketemu empat wakil lainnya di bandara. Tetapi rasa being Indonesia membuat kami cepat padu bahkan layaknya teman-teman akrab yang sudah kenal dalam waktu lama.

Padahal, kami datang dari latar belakang yang berbeda dan mendukung tim kesayangan yang berbeda-beda pula.

Joe, profesional hotel dan Edwin, marketing tabloid sport terbesar di Indonesia, adalah die hard Arsenal fans. Riski, insinyur di perusahaan teknik dan Chafid, ahli TI lulusan Inggris adalah anggota fans Manchester United Indonesia.Gue dan RJ? We’ll never walk alone pokoknya.

Tetapi begitu bertemu, tahap sosialisasi tampaknya tidak diperlukan. Kami langsung klik dengan begitu saja. Mendukung satu sama lain dan selalu bersama-sama dalam konteks kompetisi hingga bersenang-senang. Kami acak-acak seluruh penjuru Negara ini bersama-sama. Gue sih seneng banget dengan atmosfir seperti ini.

Dan, ternyata gue nggak malu-maluin Indonesia kok. ESPN melarang kami untuk membocorkan hasil kuis ini karena baru akan tayang mulai 27 Februari mendatang. Jadi gue cuma bisa kasih tahu, sampai sekarang kami masih sukses menendang pantat peserta dari negara lain dan lolos ke 16 besar. Sisanya? Lihat sendiri di ESPN.

Final Dalam Lumpur

September 14th, 2006 by kiriabis

Ada undangan ke Final Copa Indonesia nih, di Sidoarjo, akhir pekan nanti.

Tapi kayaknya temen-temen reporter gue gak bisa, nih. Tono baru pulang dari Kalimantan ikut RI 1. Noor pingin banget berangkat ke reli makassar.

Finalnya khan sabtu. Berangkat Jumat, Minggu pagi udah di Jakarta lagi. Jadi, kayaknya gue bisa deh berangkat.

Wah. Coba gue pikir-pikir dulu.

Cuma satu jam perjalanan di dalam Garuda for free.

Akomodasi dan konsumsi kelas bintang lima juga for free.

Udara malam Surabaya.

Bebek Goreng Kayu Tangan.

Soal kualitas pertandingan sih, gue yakin biasa-biasa aja (klub Indonesia, gitu loh). Tapi atmosfer final selalu menyenangkan. Menyalakan Marlboro Lights Menthol di tengah Riuh rendah puluhan ribu pendukung Arema dan Persipura. Menikmati ‘Mutiara Hitam’ bertempur dengan ‘Singo Edan’ di tengah lapangan.

Hmm, cool. Boleh deh. Kayaknya itu akan menyenangkan.

Tapi nanti dulu.

Sidoarjo khan sedang terkena musibah. Semburan lumpur panas dari Lapindo ‘Fuckin’ Brantas. 

Kok kayaknya gak etis banget, ya.. bersenang-senang di final Copa sementara gak jauh dari sana ada tragedi nasional yang sampai kini belum juga terpecahkan.

"Loh, khan stadion Gelora Delta jauh mat dari lokasi semburan lumpur," si Antagonis dalam diri gue berkata.

"Lagipula elo khan nginepnya di Surabaya. Memangnya kalo Final Copa ditunda, lumpurnya berenti, apa?" dia ngoceh lagi.

Ada benernya juga sih si Antagonis bego ini. Tapi nggak ah. Jauh di Jakarta aja gue geram banget mengikuti berita soal Lapindo ini. puluhan ribu orang kehilangan tempat tinggal. Setiap hari puluhan ribu lainnya terancam menyusul sementara pemerintah dan pihak Lapindo malah bersikap seperti tidak berdaya.

Kayaknya gue nggak bakalan tega bersenang-senang, sementara persis di samping gue tragedi itu makin lama semakin mengerikan.

Hmmm, berangkat gak ya? Ah, nggak deh.

Meja Kosong

July 26th, 2006 by kiriabis

Gue menulis dan mengedit seperti biasa. Lantai empat ruang redaksi juga bergulir dengan rutinitas yang biasa. Tokh besok terbit seperti biasa. Pertunjukkan harus tetap berjalan.

Yang tidak biasa, atmosfer duka kental menyelimuti ruangan yang biasanya ceria ini. Bahkan beberapa diantaranya bekerja menggunakan matanya yang masih memerah.

Gue juga. Oke, sepertinya gue masih bisa memenuhi tuntutan seorang profesional yang bisa bekerja dengan optimal apa pun suasana hatinya. Tetapi gue gak bisa menahan diri untuk kerap melirik kubus kosong di seberang meja gue.

Meja itu khan mejanya Pak Suwardi, redaktur halaman utama kami. Pria berusia 44 tahun yang santun, ramah dan rendah hati.

Meja itu kosong sekarang. Pak Wardi meninggal dunia kemarin sore.

Padahal, jam tiga sore kemarin gue masih keliling untuk mendata siapa-siapa saja yang bisa main bola sabtu besok.

“Pak Wardi, mau main bola gak?”

“Wah, saya sudah lama tidak main, mas Hikmat,” jawabnya. “Tapi kapan itu?”

“Sabtu pagi, mas. Di Lapangan Don Bosco Pulomas. Redaksi lawan divisi lain.”

“Wah, kayaknya saya gak bisa mas,” Pak Wardi menjelaskan.

Jam empat sore gue meninggalkan kantor untuk satu urusan. Jam tujuh malam kabar itu datang. “Pak Wardi meninggal, Mat,” kata Dwi lewat sambungan telepon.

Jelas gue kaget banget. Secepat itu. Seingat gue terakhir ketemu Pak Wardi masih segar dan ceria seperti biasanya.

Kemarin dia juga masih nyetir sendiri ke kantor. “Mas Hikmat, saya tadi liat mobil mas di Jalan Raya

Bogor

. Tetapi saya tidak bisa nyusul karena terhalang banyak truk,” sapa Mas Wardi saat kita bertemu di pelataran parkir kantor.

Tetapi benar kata Dwi, siapa yang tahu umur seseorang. Sang maut bisa datang kapan saja jika waktu yang ditentukan datang.

Yang jadi penghiburan gue, semoga Mas Wardi bisa berbahagia di

sana

. Sebab dia memang orang baik dan sholeh. “Mas Wardi orang yang sangat sabar. Mobilnya diserempet orang aja dia gak marah,” seorang kawan lamanya mengenang.

Betul, gue belum lama kenal beliau. Khan belum dua bulan gue kerja di tempat baru ini. Tetapi tidak butuh waktu lama untuk mengenali seseorang yang begitu baik hati. Gue sering ngobrol banyak sama Pak Wardi kalau lagi nebeng dia, atau sebaliknya. Rumah kami cukup berdekatan, dia di Depok Timur.

Selamat jalan Pak Wardi, have fun in your new place.

Boys Don’t Cry

June 1st, 2006 by kiriabis

BOYS Don’t Cry dari Robert Smith dan kawan-kawan. Beberapa hari terakhir sering banget masuk ke kuping gue, di rumah, di mobil, di kantor, lewat MP3 player yang gue kantungi kemana-mana.

Bukan karena gue suka banget sama lagu itu. Bukan juga karena gue seorang maniak The Cure. Biasa-biasa aja.

Tapi dengerin lagu Boys Don’t Cry gue anggap sebagai terapi. Modal gue menyambut tanggal 31 Mei. Supaya di tanggal itu gue gak nangis, khan anak laki-laki tidak menangis.

Tanggal 1 Mei 2006 gue menyerahkan surat resign gue ke Pemred, manajer SDM, dengan tembusan ke pihak-pihak lain. Artinya, tanggal 31 Mei adalah hari terakhir gue kerja di Media Indonesia. Di tanggal itu gue harus berpamitan dengan teman-teman sekerja.

Dan terus terang, saat pamitan itu gue takut nangis. Memang gue cabut dari Media Indonesia secara baik-baik untuk menyongsong harapan baru di tempat lain. Tetapi tetep aja, gue takut nangis. Karena jujur aja gue bersenang-senang di Media selama tiga setengah tahun masa kerja gue.

Apalagi gue tergolong orang yang emosional. Apa pun peraasan yang gue rasakan, akan sangat jelas tampak ke permukaan. Gue masih inget menitikkan air mata di acara perpisahan pak Kiram yang pensiun. Gue juga berkaca-kaca waktu Tomi keliling untuk pamitan karena harus cabut ke Belanda dapet beasiswa. Apalagi tanggal 31 Mei, giliran gue yang pamitan.

Tanggal 31 Mei itu datang. Seperti yang sudah gue duga, terapi Boys Don’t Cry gak ada faedahnya samasekali. Untungnya, gue bisa menahan diri untuk tidak tersedu sedan. Gue hanya menampilkan mata berkaca-kaca dipenuhi dengan air mengembang di pelupuk mata.

Tapi sumpe, gue terharu banget. Berkeliling mendatangi meja-meja sambil mengucapkan kalimat pamit, tergambar jelas di benak gue masa-masa menyenangkan selama 3 setengah tahun itu.

Suasana kerja, atmosfer newsroom, dan yang paling bikin gue terharu, temen-temen sekerja yang enak dan suportif. Apalagi waktu gue menyambangi wilayah desk olahraga. Agus, Adi, Anton, Maulana, Eko Kampret, Dudi, dan lain-lain. Mereka adalah kumpulan tim kerja terbaik yang pernah gue dapet sepanjang karir, baik dalam wacana profesional maupun pribadi. Gue akan merindukan mereka.

Di mobil dalam perjalanan pulang, rasa haru belum terusir. Bahkan sampai sekarang.

Tapi gue harus terus melangkah. Lagipula keputusan pindah ke tempat baru samasekali bukan keputusan yang tidak menyenangkan. Di tempat baru ini mungkin tidak ada Adi yang sedang menggerutu atau Wolter yang ngajak jalan dengan suara semakin lama semakin kecil. Atau Agus yang sibuk mengibaskan rambutnya, Maulana yang siap memasok laci-laci terbuka, atau Anton yang datang dengan muka pengok.

Tapi ada tantangan tersendiri yang bisa membangkitkan adrenalin dan gairah setiap berangkat ke kantor. Gue mencoba ikut memulai media baru dari nol, mencoba memulai mahzab jurnalistik baru yang belum umum di negeri ini.

Tentu, faktor finansial selalu menjadi pertimbangan. Sebagai ayah dari dua anak yang sangat lucu dan tampan, peningkatan penghasilan selalu berarti makin luasnya kemungkinan gue untuk memprovide anak gue semaksimal mungkin baik dari segi pendidikan atau pun hobi-hobi mereka.

Tapi di luar itu, gue bergairah karena bikin sesuatu yang baru itu selalu menyenangkan dan penuh tantangan. Gue tahu betul itu karena gue pernah ikut membidani terbitnya majalah komputer PC Media. Oke bahwa gue cabut dari

sana

lewat insiden, tapi terus terang gue menikmati masa-masa itu, dari mulai nol besar sampai terbit dan eksis di pasaran.

Dan sekarang gue dikasih kesempatan itu lagi. Dan gue suka konsep yang mau diusung media ini. Butuh kerja keras memang, tapi kalau mulus, paling nggak publik akan nengok dengan hadirnya media dengan konsep yang lumayan beda. Semoga.

Pramoedya Ananta Toer: “Untuk Hikmat, Selamat Membaca”

April 30th, 2006 by kiriabis

Pramoedya Ananta Toer.
Sampai sekarang gue selalu terkagum-kagum setiap membaca tulisan-tulisannya. Bagi gue, sepertinya bukan kemampuan menulis yang dipunyai pak Pram, tetapi kekuatan sihir.

Gue belum menemukan penulis lain di Indonesia yang paling tidak bisa mendekati kemampuan pak Pram. Humanismenya, romantismenya, kecintaannya pada detail, idealismenya, gairahnya, sikapnya, dan lain-lain.

Hiperbolic speaking, gue masih harus berusaha keras meyakinkan diri sendiri bahwa Darsam itu hanya tokoh fiktif, bukan karakter yang benar-benar pernah hidup. Begitu juga dengan Robert Mellema. (Tapi itu masih mending, istri gue sampai sekarang masih pengen banget ngerasain sekolah di Hogwarts, hehehe).

Hampir separuh umur dalam kehidupan gue diisi oleh pak Pram. Oleh karya-karyanya. Tetapi baru satu kali gue bertemu langsung, saat beliau diundang bedah buku di FISIP UI tahun 1998. Meski demikian, satu kali itu lebih dari cukup karena gue akan mengenangnya seumur hidup.

Usai bedah buku gue datangi dia. Meski pendengarannya sudah kurang baik, pak Pram masih sangat antusias melayani obrolan dari mahasiswa macam gue yang saat itu dia sebut idealisme segar.

Usai perbincangan, gue sodorkan buku ‘Nyanyi Sunyi Seorang Bisu’ dan ‘Hoakiao di Indonesia’ yang ada di tas gue untuk ditandatangani. Sebelum menorehkan tanda tangan pak Pram bertanya: "Siapa tadi Namamu?"
"Hikmat, pak."

Dan di buku itu dia pun menulis, "Untuk Hikmat, Selamat Membaca! Salam, Pramoedya Ananta Toer"

Tadi pagi Pak Pram telah berpulang. Jenazahnya diantar ke peristirahatan terakhir di pekuburan Karet Tengsin, Jakarta.

Pak Pram, istirahatlah. Saya akan terus membaca, pak. Indonesia pun akan terus membaca karya-karyamu yang abadi.

Uang Telah Membunuh Sepak Bola!

January 6th, 2006 by kiriabis

SEPTEMBER 2016. Saat itu gelandang Chelsea Frank
Lampard menyatakan pensiun di usia 35 tahun. Dia pensiun dengan bahagia
karena bersama Chelsea menjadi juara Liga Primer 12 kali berturut-turut
sejak musim kompetisi 2004-2005.

Ilustrasi di atas mungkin terkesan main-main dan
menggelikan. Tetapi sesungguhnya bisa saja terjadi jika Roman
Abramovich masih mau menggelontorkan dana untuk kepentingan Chelsea
hingga 2016.

Sepak bola saat ini terancam mati, dan pembunuhnya
adalah uang!

Memang, tidak ada yang memungkiri jika di era kapitalistik
saat ini sepak bola telah menjadi industri besar yang melibatkan
perputaran uang yang sangat besar. Tetapi fenomena yang terjadi
belakangan ini semakin menggelisahkan. Para penggemar sepak bola di
seluruh jagat pun terancam kehilangan sihir dan keindahan sebuah
kompetisi sepak bola yang memikat dan kompetitif.

"Ibaratnya, klub-klub kaya bertarung dengan senjata
nuklir, dan klub lainnya melawan dengan tombak," ucap Presiden FIFA
Sepp Blatter mengungkapkan kekhawatirannya, Oktober lalu.

Lihat saja kisah Chelsea di Liga Inggris. Pada awal
2003, Chelsea hanyalah klub medioker di wilayah London Utara, dengan
beban utang tidak kurang dari 80 juta poundsterling (sekitar Rp1,3
triliun). Sudah lama sekali mereka tidak juara Liga Primer, terakhir
pada 1955.

Pertengahan 2003, nasib Chelsea berubah ketika
datang seorang taipan minyak Rusia bernama Roman Abramovich, membeli
Chelsea dengan kekuatan finansial yang tidak terbayangkan. Bos
perusahaan Sibnet ini diperkirakan mempunyai dana segar tidak kurang
dari Rp200 triliun.

  Roman yang sebelumnya memiliki CSKA Moscow ini tidak mau berlama-lama.

Dia langsung menghamburkan uang tidak kurang dari
200 juta poundsterling untuk membeli segerombolan pemain terbaik
seperti Didier Drogba, Petr Cech, Claude Makelele, Arjen Robben, dan
lain-lain.

  Hasilnya, mereka juara Liga Primer 2004/2005 dengan merontokkan  penguasa tradisional, Manchester United dan Arsenal.

  Di musim ini, dominasi Chelsea belum terkalahkan. Pada 8 Agustus 2005 gua di Media Indonesia dengan tegas memakai judul ‘Chelsea
Lagi!’ untuk tulisan prediksi Liga Primer musim ini. Dasar dari
keyakinan itu sederhana, yakni kekuatan uang Chelsea yang makin
menggila.

Dengan uang banyak, arsitek Jose Mourinho bisa
dengan mudah mempertahankan kerangka tim musim lalu. Yang bertambah
dahsyat dengan datangnya Asier Del Horno dari Athletic Bilbao dengan
transfer 8 juta poundsterling, Shaun Wright-Phillips (Manchester City,
27 juta pounds), dan Michael Essien (Lyon, 26 juta pounds).

Beberapa waktu lalu Mourinho pernah membantah,
sukses mereka tidak disebabkan uang. "Tetapi semangat juang, permainan
kolektif, dan nafsu untuk menang para pemainlah yang menjadi kunci."

  Meski demikian, omongan arsitek asal Portugal itu menjadi terkesan lip service belaka, ketika beberapa hari
lalu terungkap gaji pemain Chelsea secara keseluruhan mencapai US$174
juta (mencapai Rp1,6 triliun) per tahun. Bandingkan dengan rata-rata
gaji pemain di klub Liga Primer yang hanya US$22 juta per tahun.

Tentu saja anak-anak Chelsea itu bermain semangat dan sepenuh hati dalam mengejar kemenangan. Pemain mana yang begitu bodoh bermain serampangan dengan resiko kehilangan pendapatan yang mungkin cukup untuk tujuh turunan?

  Chelsea memang contoh paling gamblang, tetapi bukan satu-satunya.

Sebelum Abramovich ikut campur, liga-liga di Eropa
memang sudah lama didominasi kekuatan uang. Manchester United empat
kali meraih gelar juara Liga Primer dalam waktu lima tahun (musim
1998/1999 ke 2002/2003). Tim terkaya di Inggris saat itu adalah
Manchester United.

Di Liga Jerman, Bayern Muenchen merebut enam gelar
juara dalam 10 tahun terakhir. Siapa tim terkaya di Jerman 10 tahun
terakhir? Jawabannya juga Bayern Muenchen. Demikian juga di Italia, dua tim  terkaya –Juventus dan AC Milan– bergantian mendominasi.

Liga Spanyol sepuluh tahun terakhir pun didominasi tim terkaya di sana, Real Madrid. Jika sekarang  anak-anak ‘Los Galacticos’ itu melempem dan kalah bersaing dengan Barca, itu karena bintang-bintang malahnya seperti Zidane atau Ronaldo memang sudah antiklimaks dan tinggal menjalani grafik menurun.

Kita tunggu saja apa jadinya Liga Spanyol jika
bulan ini Real Madrid sukses mewujudkan ambisinya merekrut arsitek
Fabio Capello dan barisan pemain-pemain terbaik (dan termahal) dunia.

  Lalu, apa yang bisa diperbuat untuk menyelamatkan gairah sepak bola?

  Sistem gerendel catenaccio di Liga Italia
tahun 60-an tentu bukan lagi jawaban yang tepat. Sistem bertahan serapat-rapatnya itu memang lahir sebagai cara klub-klub Italia untuk mengatasi kiprah klub-klub kaya yang bisa seenaknya merekrut pemain-pemain terbaik.

Di Liga Inggris sudah
muncul usulan membatasi pengeluaran gaji per klub paling tinggi US$44
juta. Belanja pemain pun akan dibatasi di masa mendatang. Rasanya pembatasan belanja dan gaji pemain bisa
dicoba. Sehingga pentas Liga Inggris tidak sekadar menanti Chelsea
memastikan gelar juara.

Anak-anak Malik Tidak Bisa Lagi Bertemu Ayahnya

November 30th, 2005 by kiriabis

Hua ha ha, gua ngakak berat melihat layar kaca yang menayangkan video testimoni  para pelaku  Bom Bali II. Gua makin terpingkal-pingkal pas adegan menayangkan seorang bertopeng dengan logat melayu (biar dibilang Noordin M Tob tuh) berapi-api menyuarakan propagandanya.

Bukan, gua bukan mempermasalahkan kontroversi seputar keotentikan video tersebut (temen gue yang beraliran fatalis bahkan bilang video itu merupakan rekayasa aparat keamanan).

Biarin aja, mau otentik kek, rekayasa kek, tapi content-nya itu loh yang konyol banget. Lucu aja melihat betapa seseorang bisa yakin terhadap satu hal secara membabi buta. Lucu aja ada orang yang berharap sorga dengan cara membunuh ratusan orang lain.

Apalagi pas si melayu itu ngomong. What a joke. What a fuckin joke. Dengan tegas dia bilang semua yang dia lakukan bertujuan untuk memerangi Amerika dan antek-antek baratnya macam Australia, inggris, dan lain-lain.

Lho, mau perang sama Amerika kon ngebomnya di Indonesia, bego banget deh lo!

Mau bom Bali I, II, Marriot, Kuningan, Amerika kayaknya gak rugi apa-apa tuh. Semua kerugian ditanggung rakyat Indonesia. Mulai dari korban jiwa sampe harga ekonomi yang terus membebani paska pengeboman.

Kalo benci Amerika, ngebomnya di Amerika dong, ah.

Tapi kalo dipikir-pikir, apa iya cara itu bisa efektif untuk mencapai tujuan perjuangan mereka? Kok gua sangsi yah?

Gua termasuk orang yang mudah respek sama gerakan perlawanan terhadap penindasan. Gua juga termasuk orang yang mengambil sikap bermusuhan terhadap berbagai kebijakan politik luar negeri-nya Amerika.

Tapi, gua gak bisa respek sama cara perjuangan lewat aksi pemboman. Selain pengecut, cara-cara itu biasanya gak akan sampai ke musuh utama yang menjadi tujuan. Korbannya paling rakyat-rakyat biasa juga yang gak tau apa-apa.

Mungkin gua bisa respek kalo mereka berhasil meledakkan gedung putih atau pentagon, dan mengenai orang-orang yang selama ini bertanggung jawab terhadap kebijakan-kebijakan konyol-nya Amerika, termasuk si George Semak-Semak (Bush) itu.

Tapi nyatanya kan enggak. Peristiwa WTC New York, Bom London, atau bom-bom di Indonesia, korbannya rakyat biasa.

Gue jadi inget tulisan beberapa tahun lalu, waktu ngeliput soal peristiwa WTC itu di DC dan NY. Kaget juga dengan fakta banyak orang Islam yang ikut jadi korban.

Anak-anak Malik Tidak Bisa Lagi Bertemu Ayahnya

"YANG paling membuat hati saya pedih ialah
menjelaskan kepada kedua kemenakan saya bahwa ayahnya tidak akan lagi
pulang ke rumah."

Kalimat itu diucapkan oleh Hassan, warga New York, Amerika Serikat (AS), saat berbincang dengan  saya di sela-sela mengikuti peringatan dua tahun Tragedi 11 September di New York, Rabu (10/9) malam (kemarin WIB).

Hassan yang berasal dari komunitas muslim kulit
hitam itu kehilangan adik kandungnya yang bernama Malik. "Malik adalah
seorang pengacara yang berkantor di gedung World Trade Center (WTC),"
ujarnya.

Menara kembar yang menjadi simbol kejayaan ekonomi AS itu runtuh setelah ditabrak dua pesawat yang dibajak pelaku serangan.

Ia kemudian berkisah, saat itu Malik seperti biasa berangkat kerja.

Yang tidak biasa, sebelumnya Malik menelepon Hassan dan mengajak mengobrol. Di akhir pembicaraan Malik berkata, "I love you, my brother!".

Hassan tidak berfirasat apa-apa sebelum akhirnya
melihat tragedi itu lewat televisi. Hassan yang tinggal di daerah
Brooklyn segera beranjak menuju lokasi. "Di sana keadaannya seperti
medan perang. Jerit tangis di mana-mana, serta ribuan orang telah
berkumpul, termasuk polisi dan petugas pemadam kebakaran."

Hingga kini tubuh Malik belum ditemukan. Hassan
bercerita, Malik meninggalkan seorang istri, anak lelaki yang kini
berusia delapan tahun, serta anak perempuan berusia lima setengah tahun.

"Hingga kini hati saya masih sangat sedih jika
melihat kedua anak itu, yang kehilangan ayahnya akibat ulah manusia
yang sama sekali tidak mempunyai hati nurani," ujarnya menahan tangis.

Kapitalisme Malu-malu ala Beijing

July 7th, 2005 by kiriabis

Beijing, 9 Mei 2005. Kejuaraan beregu bulutangkis Piala Sudirman 2005, 10-15 Mei, yang membawaku ke tempat ini.

Sungguh menyenangkan menginjak Beijing untuk pertama kali, apalagi setelah mendekam berjam-jam di Garuda. Keramahan sukarelawan-sukarelawan muda yang menyambut di Bandara dan mengantar menuju bus khusus semakin membuat nyaman. “Liputan kali ini pasti akan menyenangkan,” gumamku dalam hati.

Dari balik jendela bus saat perjalanan dari bandara menuju hotel Friendship tempatku menginap, aku tidak bisa menyembunyikan kekagumanku. “Wah, kotanya sangat modern, tertata rapi, dan bersih,” ujar Dadang, wasit IBF dari Bandung yang rupanya mempunyai topik yang sama dalam benaknya.

Dan aku mengangguk membenarkan. Semasa di Jakarta aku memang sudah mendengar banyak cerita tentang Beijing dari rekan-rekan yang sudah meliput di sana. “Tidak seperti gambaran sebelumnya, Beijing sangat modern tidak ubahnya seperti kota-kota besar di negara maju Eropa,” demikian intisari cerita mereka. Tetapi aku tetap terkagum-kagum ketika menyaksikannya sendiri.

Kekagumanku tidak berkurang –bahkan bertambah– saat aku menghabiskan waktu satu minggu di sana. Di sela-sela kesibukan meliput Piala Sudirman, aku masih bisa menghabiskan waktu senggang dengan berjalan-jalan, wisata –termasuk wisata makan bebek Peking yang tersohor itu–, belanja, hingga menghabiskan malam dengan nongkrong di kawasan anak-anak kampus bersama teman-teman baruku mahasiswa Beijing Language University.

Bukan tempat-tempat wisata indah semacam kota terlarang atau tembok China yang menjadi pusat kekagumanku. Bukan juga sate sapi supermurah atau bebek peking superlezat. Bukan pula pasar-pasar murah dimana dijual sepatu keren dengan harga 20 Yuan (sekitar Rp22.000, dan aku membelinya satu).

Yang paling membuatku kagum adalah semangat kapitalisme mengalir deras di kota itu, di sikap penduduk kota itu. Pasar-pasar menggeliat, perekonomian berjalan dengan sangat sibuk. Penduduk bebas mengumpulkan Yuan sebanyak-banyaknya.

Sepertinya aku tidak lagi melihat sisa-sisa semangat komunis di negeri tirai bambu ini. Padahal kini Partai Komunis China (PKC) masih menjadi partai terbesar dan berkuasa, dan China pun masih dipimpin oleh Presiden yang juga pemimpin PKC, Hu Jiantao.

“Memang di China Komunis masih berkuasa. Tetapi pembaharuan telah terjadi. Ada dua kiblat besar yang digunakan. Paham komunisme untuk dunia politik, dan kapitalisme untuk perekonomian,” jelas Faye, wartawati Xinhua berambut indah suatu kali di press room Piala Sudirman. Warga China bebas mencari uang sebanyak-banyaknya, tetapi sebagaimana kewajiban di negara-negara komunis sosialis menyerahkan sebagian kecilnya kepada negara melalui mekanisme pajak, dan lain-lain.

Komunisme untuk urusan politik, dan semangat pasar bebas untuk ruang ekonomi. Perpaduan yang menarik, pikirku. Dan ternyata konsep itu mampu membawa China menuju pertumbuhan ekonomi yang luar biasa pesat, membawa China menjadi salah satu negara yang sangat diperhitungkan di kawasan Asia, juga di kawasan global.

Tetapi ternyata, perpaduan dua mahzab yang biasanya bertolak belakang itu bukan satu-satunya kunci sukses China. Ada lagi yang lebih penting: Ketegasan penegakan hukum.

Di negara yang warganya sudah terbiasa disiplin itu, tidak ada kata ampun bagi penjahat ekonomi. Hukuman mati yang dialamatkan kepada para koruptor membawa efek jera kepada yang lain. Pedang hukum di sana benar-benar berfungsi untuk memenggal kekotoran tanpa ditumpuli oleh ulah busuk para penegaknya.

Hasilnya, pendapatan yang masuk ke pemerintah –termasuk pajak penduduk– tidak tergerogoti dengan buas seperti di Indonesia. Pemerintah China pun bisa mempergunakan dana yang tidak terkorupsi itu untuk kepentingan yang semestinya, termasuk untuk membangun infrastruktur yang membuat kota ini sedemikian cantik, modern, dan teratur. Rakyat pembayar pajak pun dapat merasakan hasil nyata dari dana yang disetorkannya.

Pengamatan-pengamatanku ini bisa jadi tidak benar, bahkan besar kemungkinan untuk salah, karena waktu lebih banyak habis berkutat dengan Piala Sudirman di National Stadium yang terletak di pusat kota, serta bersenang-senang.

Tapi satu hal yang terbukti kebenarannya, yakni liputan kali ini memang benar-benar menyenangkan. Apalagi ditambah wiski dan kue khas Skotlandia yang dibawa walikota Glasgow, yang akan menjadi tuan rumah Piala Dunia dua tahun mendatang, yang dihabiskan sambil bercengkerama dengan sesama wartawan dari berbagai negara di malam penutupan.

Sayang, kebahagiaan tidak terlengkapi karena Indonesia gagal membawa Pulang Piala Sudirman ke tanah air. Tim Merah Putih yang sejak babak penyisihan hingga semifinal tampil perkasa, di partai puncak harus menyerah dari tuan rumah China 3-0.

Dewa-dewa Sudah Mendarat

April 4th, 2005 by kiriabis

Dewa-dewa Sudah Mendarat

“THE Gods have landed,” (Dewa-dewa sudah mendarat). Itu adalah slogan resmi kejuaraan biliar bola sembilan A Mild Billiard Bali International Open, di Paradiso Billiard and Bowling Center, Denpasar, 4-8 April 2005.

Slogan itu bisa jadi benar, karena ajang invitasi tahunan kali ini diikuti oleh ‘dewa-dewa’ biliar dunia seperti Efren Reyes, Francisco Bustamante (Filipina), Alex Pagulayan, Satoshi Kawabata (Jepang), Mika Immonen (Finlandia), Jeong Young Hwa, Ham Won Sik (Korea Selatan), dan lain-lain. Belum lagi atlet-atlet nasional Indonesia semacam Muhamad Junarto, Yudharman Kamarudin, Robby Suarly, Adam Abdurahim, Siaw Wieto, dan lain-lain.

Hari ini (5 April 2005) dewa-dewa itu sudah berkumpul di Bali, dan siap berlaga di Stage II besok. Sedangkan aku tentu bersiap-siap untuk berpesta dan berkenalan dengan mereka nanti malam. Panitia menyediakan media gathering dan welcome party antara wartawan dengan para atlet dunia itu di Planet Hollywood Bali, nanti malam. Siapa tahu Efren Reyes, orang Filipina yang mantan juara dunia itu bersedia bertandingn one-on-one denganku nanti malam.

Kemarin, kejuaraan dibuka dengan babak kualifikasi (Stage I) 4-5 April, yang diikuti ratusan atlet daerah, nasional, bahkan dari mancanegara seperi Malaysia (1 pebiliar), Vietnam (6), Taiwan (1), Brunei Darussalam (2), Singapura (12), Thailand (1), dan Selandia Baru (1).

Hari pertama kualifikasi yang diikuti 112 atlet berlangsung sangat kompetitif, dengan atmosfer pertandingan yang menegangkan. Naluri jurnalistikku tergugah untuk ikut serta merasakan atmosfer dan ketegangan kejuaraan internasional ini. Karena itu, ketika mengetahui ajang kualifikasi terbuka untuk umum –cukup membayar uang pendaftaran Rp150.000–  tanpa pikir panjang aku ikut mendaftar.

Seperti diduga sebelumnya, pada Stage I hari kedua, aku langsung tersisih di babak pertama. Aku yang berhasil masuk delapan besar kejuaraan antarwartawan SIWO PWI Jaya 2004, bukan tandingan I Wayan Nalo, atlet daerah Bali. Nalo adalah Juara II A Mild Biliar Cup Seri III, Bali 2004, 16 besar Pra Bali 2004, dan berbagai prestasi lain.

Tetapi seperti juga aku, motivasi Nalo di ajang internasional ini adalah untuk menjajal kemampuan melawan bintang-bintang dunia. “Ini kesempatan emas bagi atlet-atlet Bali untuk menguji kemampuan dan menambah pengalaman di ajang Internasional. Melawan atlet kelas dunia, kami bisa belajar banyak mengenai teknik-teknik yang belum diketahui.”

Karenanya, putra daerah Pulau Dewata ini tidak muluk-muluk mentargetkan juara. “Target saya adalah lolos ke babak utama (Stage II), dimana di situ saya berkesempatan untuk main melawan Reyes dan lain-lain.”

“Kapan lagi bisa bertanding dengan Reyes, Pagulayan, dan lain-lain,” sambung Desak Raka, atlet putri Bali yang juga atlet Nasional. Perempuan yang akan memperkuat Indonesia di Sea Games Manila 2005 ini sendiri sukses melaju ke Stage II.

Motivasi serupa dicetuskan Riski Maulana, atlet muda dari Jakarta. “Saya datang bersama skuad klub Berlian Jakarta. Tujuannya hanya untuk cari pengalaman. Sebenarnya saya ingin sekali berlaga dengan bintang-bintang dunia,” ujar mahasiswa STIE Perbanas ini.

Sayang, Risky gugur di babak awal, dihantam Aji, atlet Banten. “Tidak mengapa, ajang tahun ini untuk menjajal kemampuan, sekaligus menyaksikan bintang-bintang dunia berlaga.”

Motivasi berbeda diungkapkan Sandra, atlet daerah Bali. Tidak tanggung-tanggung, dia mentargetkan meraih gelar juara. “Saya selalu memasang target harus menang. Termasuk jika akhirnya bertemu dengan bintang-bintang dunia seperti Reyes. Tidak perlu takut. Sebagai atlet biliar, saya selalu tertantang untuk lebih baik dari atlet lain. Sama-sama makan nasi, khan?”

Tetapi dalam kualifikasi hari kedua, perempuan cantik ini harus tersingkir oleh Teddy dari Jakarta. “Tahun depan saya akan ikut lagi, dan harus menang.”

When The Hero Die

April 4th, 2005 by kiriabis

Damn, Bandara Ngurah Rai. Sudah terlalu lama aku tidak mengunjungi Bali.

Now, here I am, island of the gods. Where the evil dance. Where the hero dies. Bali, pulau dewata. Dan aku berada di sini juga berkaitan dengan dewa-dewa itu.

"The gods have landed," dewa-dewa sudah mendarat. Aku ke Bali untuk meliput kejuaraan biliar internasional. A Mild Bali International Open, 4-8 April 2005. Dan slogan resmi turnamen itu sepenuhnya benar. Dewa-dewa biliar dunia sudah berkumpul saat aku menjejak tanah Denpasar Senin (4/4) pagi.

Paradiso Bowling and Billiard center, Kuta. Kantukku (hari itu aku belum tidur, penerbanganku pukul 06.40 sementara aku baru meninggalkan kantor pukul 01.00) langsung tergantikan menjadi gairah begitu aku mendapati kepastian nama dewa-dewa biliar yang akan berlaga di ajang invitasi ini. Efren Reyes, Mika Immonen, F Bustamante, Alex Pagulayan, dan puluhan nama lainnya.

Bagiku, beberapa nama diantaranya merupakan personal hero. (Aku sendiri hanya atlet biliar wannabe, tapi punya prestasi cukup lumayan, hua hua ha. 16 besar kejuaraan biliar mahasiswa sejabotabek, pemegang medali emas pekan olahraga FISIP UI, terakhir delapan besar kejuaraan biliar antarwartawan Jakarta.

Aku menyaksikan kualifikasi hari pertama dari tempat duduk wartawan. Damn, betapa gairahku meletup-letup melihat 112 atlet daerah, nasional maupun internasional itu berlaga memperebutkan 32 tempat untuk bertarung dengan dewa-dewa dunia di babak utama.

Dan ketika aku tahu kejuaraan ini terbuka untuk semua orang, tanpa pikir panjang aku langsung mendaftar. Aku tidak peduli bahwa besok (kualifikasi hari kedua) aku akan dibantai habis-habisan oleh seorang atlet nasional bahkan internasional. Kesempatan berlaga di ajang internasional ini sangat sulit untuk ditinggalkan.

Paling tidak, apa pun hasilnya aku punya satu kemenangan, yaitu satu produk tulisan feature dimana aku bisa menangkap atmosfer dan tekanan pertandingan dengan sempurna, karena aku terlibat di dalamnya.

Aku tidak berharap lolos ke babak utama untuk bertarung dengan pahlawan-pahlawanku. Untuk mereka, aku berharap cuplikan lagu Kuta Rock City-nya Superman Is Dead: "When the Hero Dies", tidak terjadi di rockin city ini.